...ku tak selalu berdiri...
...terkadang hidup memilukan...
lirik lagu PETERPAN yang lagi ngepas sama perasaanku saat ini,, ooohhhhh.. tak tau apalah ini.. selalu saja mengeluh, tapi ini yang ku bisa saat ini,, bukan mengeluh sebenarnya,,hanya saja tak bisa ku ungkapkan dengan kata selain mengeluh..
Tuhan.. harus bagaimana aku sekarang, saat ini, dimana aku merasa kosong, hampa, tanpa arah, resah,, gelisah,,,
Tuhan..
Tuhan..
Tuhan..
ku tau Kau selalu disampingku, ku tau Kau selalu ada buatku, kapanpun aku membutuhkanMu..tapi Tuhan..aku tak jarang melupakanMu..bahkan lupa diri ini..kali ini,,jangan biarkan aku kalut Tuhan,,ku mohon..
Tuhan..
apa yang ku derita itu dariMu,,bukan yang lain,,hatiku yang merasa,,bukan yang lain,,dan hanya Engkau yang tau itu..
Tuhan..
Tuhan..
Tuhan..
Tuhan..
ku tau Kau melihat, mendengar, dan pasti tau isi hatiku..
learn, learn, learn..
a, b, c,... 1, 2, 3,...
Jumat, 22 Juli 2011
Kamis, 21 Juli 2011
Kucing _cat_
Kucing
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kucing, Felis silvestris catus, adalah sejenis karnivora. Kata "kucing" biasanya merujuk kepada "kucing" yang telah dijinakkan, tetapi bisa juga merujuk kepada "kucing besar" seperti singa, harimau, dan macan.
Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6.000 tahun SM, dari kerangka kucing di Pulau Siprus. Orang Mesir Kuno dari 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung yang manyimpan hasil panen.
Saat ini, kucing adalah salah satu hewan peliharaan terpopuler di dunia. Kucing yang garis keturunannya tercatat secara resmi sebagai kucing trah atau galur murni (pure breed), seperti persia, siam, manx, sphinx. Kucing seperti ini biasanya dibiakkan di tempat pemeliharaan hewan resmi. Jumlah kucing ras hanyalah 1% dari seluruh kucing di dunia, sisanya adalah kucing dengan keturunan campuran seperti kucing liar atau kucing kampung.
Daftar isi |
Karakteristik
Kucing peliharaan atau kucing rumah adalah salah satu predator terhebat di dunia. Kucing ini dapat membunuh atau memakan beberapa ribu spesies— kucing besar biasanya kurang dari 100. Tetapi karena ukurannya yang kecil, kucing tidak begitu berbahaya bagi manusia— satu-satunya bahaya yang dapat timbul adalah kemungkinan terjadinya infeksi rabies akibat gigitan kucing dan juga cakaran dari kuku kucing yang sangat perih dan menyakitkan. Kucing dapat berakibat fatal bagi suatu ekosistem yang bukan tempat tinggal alaminya. Pada beberapa kasus, kucing berperan atau menyebabkan kepunahan. Kucing menyergap dan melumpuhkan mangsa dengan cara yang mirip dengan singa dan harimau — menggigit leher mangsa dengan gigi taring yang tajam sehingga melukai saraf tulang belakang atau menyebabkan mangsa kehabisan napas dengan merusak tenggorokan.
Kucing kampung memangsa seekor tikus rumah (Rattus rattus diardii).
Kucing dianggap sebagai "karnivora yang sempurna" dengan gigi dan saluran pencernaan yang khusus. Gigi premolar dan molar pertama membentuk sepasang taring di setiap sisi mulut yang bekerja efektif seperti gunting untuk merobek daging. Meskipun ciri ini juga terdapat pada famili Canidae atau anjing, tapi ciri ini berkembang lebih baik pada kucing. Tidak seperti karnivora lain, kucing hampir tidak makan apapun yang mengandung tumbuhan. Beruang dan anjing kadang memakan buah, akar, atau madu sebagai suplemen jika ada sementara kucing hanya memakan daging, biasanya buruan segar. Dalam penangkaran, kucing tidak dapat diadaptasikan dengan diet vegetarian karena mereka tidak dapat mensintesis semua asam-asam amino yang mereka butuhkan hanya dengan memakan tumbuhan; berbeda dengan anjing peliharaan, yang sering diberi makan produk campuran daging dan sayuran dan kadang dapat beradaptasi dengan diet vegetarian secara total.
Meskipun memiliki reputasi sebagai hewan penyendiri, kucing biasanya dapat membentuk koloni liar tetapi tidak menyerang dalam kelompok seperti singa. Setiap kucing memiliki daerahnya sendiri (jantan yang aktif secara seksual memiliki daerah terbesar, sedang jantan steril memiliki daerah paling kecil) dan selalu terdapat daerah "netral" dimana para kucing dapat saling mengawasi atau bertemu tanpa adanya konflik teritorial atau agresi. Di luar daerah netral ini, penguasa daerah biasa akan mengejar kucing asing, diawali dengan menatap, mendesis, hingga menggeram, dan bila kucing asing itu tetap tinggal, biasanya akan terjadi perkelahian singkat. Kucing yang sedang berkelahi menegakkan rambut tubuh dan melengkungkan punggung agar mereka tampak lebih besar. Serangan biasanya terdiri dari tamparan di bagian wajah dan tubuh dengan kaki depan yang kadang disertai gigitan. Luka serius pada kucing akibat perkelahian jarang terjadi karena pihak yang kalah biasanya akan lari setelah mengalami beberapa luka di wajah. Jantan yang aktif biasanya sering terlibat banyak perkelahian sepanjang hidupnya. Hal ini tampak pada berbagai luka di bagian wajah, seperti hidung atau telinga. Kucing betina kadang juga terlibat perkelahian untuk melindungi anak-anaknya bahkan kucing steril pun akan mempertahankan daerah kecilnya dengan gigih.
Melihat dari perilaku kucing yang ada saat ini, kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing peliharaan diperkiraan berevolusi pada iklim gurun. Kucing senang dengan suasana hangat dan sering tidur di bawah hangatnya sinar matahari. Kotorannya biasanya kering dan kucing lebih suka menguburnya di tempat berpasir. Kucing dapat mematung, tidak bergerak cukup lama terutama ketika sedang mengintai mangsa atau bersiap untuk "pounce". Di Afrika Utara masih ditemukan kucing liar yang mungkin berkerabat dekat dengan nenek moyang kucing peliharaan saat ini.
Karena memiliki kekerabatan yang dekat dengan binatang gurun, ketahanan kucing terhadap panas dan dinginnya iklim daerah subtropis agak terbatas. Kucing tidak tahan terhadap kabut, hujan, dan salju, meskipun ada beberapa jenis seperti Norwegian Forest Cat dan Maine Coon yang mampu bertahan; dan berusaha mempertahankan suhu tubuh normalnya, yaitu 39°C, dalam keadaan basah. Kebanyakan kucing tidak suka berendam dalam air, kecuali jenis Turkish Van.
Empat ekor anak kucing sedang disusui induknya.
Masa kehamilan atau gestasi pada kucing berkisar 63 hari. Anak kucing terlahir buta dan tuli. Mata mereka baru terbuka pada usia 8-10 hari. Anak kucing akan disapih oleh induknya pada usia 6-7 minggu dan kematangan seksual dicapai pada umur 10-15 bulan. Kucing dapat mengandung 4 janin sekaligus karena rahimnya memiliki bentuk yang khusus dengan 4 bagian yang berbeda.
Kucing biasanya memiliki berat badan antara 2,5 hingga 7 kilogram dan jarang melebihi 10 kg. Bila diberi makan berlebihan, kucing dapat mencapai berat badan 23 kg. Tapi kondisi ini amat tidak sehat bagi kucing dan harus dihindari. Dalam penangkaran, kucing dapat hidup selama 15 hingga 20 tahun, kucing tertua diketahui berusia 36 tahun. Kucing peliharaan yang tidak diperbolehkan keluar rumah dan disterilkan dapat hidup lebih lama (mengurangi risiko perkelahian dan kecelakaan). Kucing liar yang hidup di lingkungan urban modern hanya hidup selama 2 tahun atau bahkan kurang dari itu.
Kucing peliharaan yang tinggal di dalam rumah harus diberi kotak kotoran yang berisi pasir atau bahan khusus yang dijual di toko hewan peliharaan. Perlu juga disediakan tempat khusus bagi kucing untuk mencakar. Hal ini penting karena kucing memerlukan kegiatan mencakar ini untuk menanggalkan lapisan lama pada kukunya agar kukunya dapat tetap tajam dan terjaga kesehatannya. Tidak adanya tempat khusus ini akan menyebabkan kucing banyak merusak perabotan.
Sering kali kucing menunjukkan perilaku memilih makanan. Hal ini dikarenakan mereka memiliki organ pembau khusus di langit-langit mulutnya yang disebut sebagai organ vomeronasal atau organ Jacobson. Ketika organ ini terstimulasi oleh suatu jenis makanan tertentu, kucing akan menolak makanan selain makanan itu.
Mata kucing. Perhatikan membrana nictitans berupa selaput putih di sudut dalam ruang mata.
Kucing dapat melihat dalam cahaya yang amat terang. Mereka memiliki Selaput pelangi atau iris membentuk celah pada mata yang akan menyempit. Meskipun demikian, penyempitan ini juga mengurangi bidang pandang kucing. Suatu organ yang disebut tapetum lucidum digunakan dalam lingkungan dengan sedikit cahaya. Organ inilah yang menyebabkan warna-warni mata kucing ketika difoto dengan menggunakan blitz. Seperti kebanyakan predator, kedua mata kucing menghadap ke depan, menghasilkan persepsi jarak dan mengurangi besarnya bidang pandang. Mata kucing memiliki persepsi trikomatik yang lemah.
Ketika cahaya yang ada terlalu sedikit untuk melihat, kucing akan menggunakan "kumis" atau misainya (vibrissae) untuk membantunya menentukan arah dan menjadi alat indera tambahan. Misai dapat mendeteksi perubahan angin yang amat kecil, membuat kucing dapat mengetahui adanya benda-benda di sekitarnya tanpa melihat.
Kucing memiliki kelopak mata ketiga yang disebut membrana niktitans. Kelopak ketiga ini terdiri dari suatu lapisan tipis yang dapat menutupi mata dan nampak ketika mata kucing terbuka. Membran ini menutup sebagian ketika kucing sedang sakit. Kadang kucing yang amat mengantuk atau gembira juga memperlihatkan membran ini.
Suara kucing sering ditulis "meong" dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris yang digunakan di Amerika, suara kucing ditulis "meow". Di negara Inggris sendiri, penulisannya adalah "miaow", "miaow" dalam bahasa Perancis, "miau" dalam bahasa Jerman, "nya" dalam bahasa Jepang dan berbagai penulisan lain dalam berbagai bahasa. Suara "meong" kucing memiliki berbagai arti tergantung pengucapannya oleh si kucing. Kucing juga dapat mengeluarkan suara seperti dengkuran panjang yang sering disukai manusia. Karena suara ini bukan merupakan suara vokal, maka kucing dapat mengeluarkan suara dengkuran dan mengeong pada saat yang sama.
Umumnya semua daun telinga kucing tegak. Tidak seperti pada anjing, kucing dengan telinga terlipat amat jarang ditemukan. Jenis Scottish Fold adalah salah satu jenis kucing dengan mutasi genetik yang langka ini. Ketika marah atau takut, daun telinga kucing jenis ini akan tertekuk ke belakang sementara si kucing mengeluarkan suara menggeram atau mendesis. Ketika mendengarkan suatu suara, daun telinga kucing akan bergerak ke arah sumber suara; daun telinga kucing dapat mengarah ke depan, ke samping, bahkan seolah menoleh ke belakang.
Kucing termasuk hewan yang bersih. Mereka sering merawat diri dengan menjilati rambut mereka. Saliva atau air liur mereka adalah agen pembersih yang kuat, tapi dapat memicu alergi pada manusia. Kadang kala kucing memuntahkan hairball atau gulungan rambut yang terkumpul di dalam perut mereka.
Kucing menyimpan energi dengan cara tidur lebih sering ketimbang hewan lain. Lama tidur kucing bervariasi antara 12-16 jam per hari, dengan angka rata-rata 13-14 jam. Tetapi tidak jarang dijumpai kucing yang tidur selama 20 jam dalam satu hari.
Jenis-jenis kucing peliharaan
Ras
Jumlah jenis kucing ras di seluruh dunia amat banyak. Setiap ras memiliki ciri khusus, tapi karena sering terjadinya kawin silang antar ras, banyak kucing yang hanya dikelompokkan dalam jenis bulu panjang dan bulu pendek, tergantung jenis rambut penutup tubuhnya.
Ada banyak macam ras kucing, beberapa diantaranya :
- Manx
Sebagian orang menyebutnya Rumpy. Ekornya pendek, Warna bulunya cokelat dan lavender. Sifatnya setia, ramah dan pintar.
- Maine Coon
Asalnya dari Maine, AS, keturunan Angora dan American Shorthair. Sifatnya lucu, pemalu tapi mau, dan mudah akrab. Bulunya tipis, lembut, dan warnanya beragam.
- British Shorthair
Dikembangkan di Inggris. Kucing ini kalem, lembut, hangat, dan pintar. Warna bulunya ada yang polos (putih,hitam,biru,merah dan krem), dwiwarna, hitam pekat, belang.
- Burmese (Burma)
Kucing ini dibiakkan oleh Dr. Thompson (AS) dari kucing ratu wong mau (Burma) dan siam. Warna cokelat musang, warna lainnya biru, champagne, lifa, merah, cokelat, dan biru kura-kura. sifatnya periang dan lucu.
- Chinchilla longhair
Inilah kucing persia paling anggun. Nenek moyangnya dari Inggris. Ras ini dibagi dalam dua macam, yaitu chinchilla warna cerah (sejati) dan yang agak gelap (perak gradasi).
Macam warna
Kucing memiliki banyak warna dan macam pola. Ciri fisik ini tidak bergantung pada rasnya. Kucing rumahan dikelompokkan ke dalam jenis berikut berdasar penampakan fisiknya :
- bulu pendek
- bulu panjang
- oriental (bukan ras khusus, semua kucing yang bertubuh langsing, mata berbentuk almond, daun telinga lebar, dan rambut tubuh halus yang pendek)
Gen yang mengatur warna dan pola pada bulu kucing menentukan penampilan fisik dari kucing yang membedakan mereka ke dalam:
Telon atau Calico
putih dengan sedikit bercak warna hitam atau oranye (atau biru atau krem). Orang Jepang sering menyebut pola ini sebagai mi-ke. Karena gen warna bulu bertaut dengan kelamin, kucing Calico yang beraneka warna ini umumnya betina.
Tortoiseshell
hitam dengan warna oranye dan putih tersebar di seluruh tubuhnya. Kucing yang memiliki warna hitam, oranye terang, dan oranye gelap disebut sebagai Calimanco atau Clouded Tiger.
Tabby
bergaris dengan bermacam pola. Pola klasik pada kucing ini berbentuk bulatan-bulatan atau lingkaran. Tabby jenis mackerel mempunyai tiga garis yang tampak di samping tubuhnya, membuat kucing ini seperti ikan mackerel.
Maltese
nama lama dari kucing biru (abu-abu).
Bicolor (dua warna)
disebut juga Tuxedo cat atau Jellicle cat karena memiliki bulu berwarna hitam dengan sedikit warna putih pada bagian kaki, perut, dada, dan mungkin pula di bagian wajah.
Domestikasi
Seperti halnya hewan yang telah mengalami domestikasi (penjinakan), kucing hidup dalam hubungan mutualistik dengan manusia. Tapi sejarah mutualisme ini jauh lebih pendek dibandingkan dengan hewan domestikasi yang lain dan tingkat domestikasi kucing juga masih diperdebatkan. Karena keuntungan yang diperoleh dari adanya kucing, maka manusia membiarkan kucing liar berkeliaran di pemukiman. Nenek moyang kucing rumahan tidak terlalu dekat dengan pemiliknya, berbeda dengan hewan domestik yang lain. Sejarah inilah yang mungkin menyebabkan tidak adanya ikatan yang kuat yang dimiliki kucing pada pemiliknya. Akibatnya, kebanyakan pemilik kucing menganggap kucing adalah hewan yang tidak terlalu peduli dan mandiri. Namun, kucing dapat sangat dekat dengan pemiliknya, terutama jika ia dibesarkan sejak kecil dan sering mendapatkan perhatian.
Aspek budaya
Pada masa silam diyakini bahwa nenek moyang kucing adalah Miacis, binatang liar pada masa Eosen yang sosoknya mirip musang, kira-kira 50 juta tahun silam.
Catatan paling awal tentang usaha domestikasi kucing adalah sekitar tahun 4000 SM di Mesir, ketika kucing digunakan untuk menjaga toko bahan pangan dari serangan tikus. Namun, baru-baru ini dalam sebuah makan di Shillourokambos, Siprus, bertahun 7500 SM, ditemukan kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Karena tikus bukanlah hewan asli Siprus, hal ini menunjukkan bahwa paling tidak pada saat itu, telah terjadi usaha domestikasi kucing. Kerangka kucing yang ditemukan di Siprus ini mirip dengan spesies kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing rumahan saat ini. [1] [2].
Pada tahun 1.800-an ditemukan suatu kuburan atau tepatnya "situs" berisikan 300.000 mumi kucing dalam keadaan masih utuh, yang menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial. Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan Dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman untuk membunuh kucing adalah mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.
Di abad pertengahan, kucing sering dianggap berasosiasi dengan penyihir dan sering dibunuh dengan dibakar atau dilempar dari tempat tinggi. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa takhyul seperti inilah yang menyebabkan wabah Black Death menyebar dengan cepat. Black Death diperkirakan merupakan sebuah wabah penyakit pes di Eropa pada abad ke-14. Cepatnya penyebaran wabah ini menyebabkan banyak orang waktu itu percaya bahwa setanlah yang menyebabkan penyakit tersebut. Pernyataan Paus menyebutkan bahwa kucing yang berkeliaran dengan bebas telah bersekutu dengan setan. Karena pernyataan ini, banyak kucing dibunuh di Eropa pada saat itu. Penurunan jumlah populasi kucing menyebabkan meningkatnya jumlah tikus, hewan pembawa penyakit pes yang sesungguhnya.
Saat ini, orang masih percaya bahwa kucing hitam adalah pembawa sial sementara ada yang percaya bahwa kucing hitam justru membawa keberuntungan. Kucing juga masih diasosiasikan dengan sihir. Kucing hitam sering diasosiasikan dengan Halloween. Penganut wicca dan neopaganisme yang lain mempercayai bahwa kucing sebenarnya baik, mampu berhubungan dengan dunia lain, dan dapat merasakan adanya roh jahat.
Di Asia, kucing termasuk ke dalam salah satu zodiak Vietnam. Namun kucing tidak termasuk ke dalam zodiak Tionghoa. Menurut legenda, ketika Raja Langit mengadakan pesta untuk hewan yang akan dipilih menjadi zodiak, ia mengutus tikus untuk mengundang hewan-hewan yang telah dipilihnya. Bagian cerita ini dikisahkan dalam berbagai versi, tikus lupa untuk mengundang kucing, tikus menipu kucing mengenai hari pesta, dan berbagai variasi lainnya. Pada akhirnya kucing tidak hadir dalam pesta itu, tidak terpilih menjadi hewan zodiak, sehingga memiliki dendam kesumat pada tikus.
Dalam syariat Islam, seorang muslim diperintahkan untuk tidak menyakiti atau bahkan membunuh kucing, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari kisah Abdullah bin Umar[3] dan Abu Hurairah.[4]
Hukum menjual dan membeli kucing pun dalam syariat Islam adalah haram hukumnya berdasarkan dalil hadits Nabi Muhammad dan kaidah fiqih (al-qawa’id al-kulliyah). Dalil hadits Muhammad, diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah bahwasanya sang Nabi telah melarang memakan kucing dan melarang pula memakan harga kucing.[5] Hadits Muhammad itu menjadi dalil haramnya memakan kucing dan memperjual-belikan kucing. Jadi Umat Islam diharamkan untuk memperdagangkan kucing sebagaimana mereka diharamkan memakan daging kucing.[6]
ini..
hanya pelarianku dari skripsi yang memanaskan kepalaku segaligus isi2nya,,
tapi tak ingin terlalu jauh lari darinya, akupun tak ingin dia meninggalkaknku..
bersenang2 dengan blog baruku..
ingin ini ingin itu banyak sekali _doraemon theme song_ favoritku...
sebenarnya tadi aku menghabiskan 30 menitku untuk menulis ungkapan hatiku saat ini, dan karena satu mungkin dua hal,, lenyaplah ketikanku itu,,
wew..
sudahlah,, nikmati saja..
yeah,, it's me,, the real me,,
tapi tak ingin terlalu jauh lari darinya, akupun tak ingin dia meninggalkaknku..
bersenang2 dengan blog baruku..
ingin ini ingin itu banyak sekali _doraemon theme song_ favoritku...
sebenarnya tadi aku menghabiskan 30 menitku untuk menulis ungkapan hatiku saat ini, dan karena satu mungkin dua hal,, lenyaplah ketikanku itu,,
wew..
sudahlah,, nikmati saja..
yeah,, it's me,, the real me,,
Sampaikan Maafku Pada Adam...
Padamu Adam.
Dengarlah permohonan maafku..
Maaf atas segala salah yg telah ku lakukan padamu.
Kau bertanya, salahku apa? Ketahuilah, ku mempunya bgt bnyak salah padamu..
Maaf untuk apa katamu?
Maka dengarlah Adam.
Aku meminta maaf akan tiap tatapanmu padaku yg akhirnya menorehkan gunda dihatimu.
Aku meminta maaf atas tiap alunan suaraku, yg kadang ku akui sengaja ku lembutkan demi menggetarkan rasamu.
Aku meminta maaf akan tiap gerakan tubuhku yg kadang ku sengaja bergerak untuk menarik perhatianmu.
Aku meminta maaf akan tiap senyuman manisku yg ku tau akan mengganggu tidurmu.
Aku meminta maaf akan tiap renyah tawaku, yg ku pun tau akan membayangi tiap anganmu.
Aku meminta maaf untuk tiap hentakan kakiku, yg pastinya akan membuatmu menatap suka.
Aku meminta maaf akan tiap celoteh candaku yg membuatmu nyaman berlama-lama berbicara dgnku dari pada teman ikhwanmu..
Dan aku meminta maaf karena kulakukan semua dgn sadarku, dengan sengajaku.
Dan ku meminta maaf karena Akupun menikmati tiap perhatianmu itu..
Adam, maafkan aku atas tiap polesan bedak dan kosmetik yg sengaja ku pakai agar matamu menatapku kagum.
Maafkan aku atas tiap pakaian yg ku kenakan dgn bentuk sedemikian rupa hingga hatimu mulai resah menatapku.
Maafkan aku akan tiap kerlingan mataku yg kadang ku sengaja mencari2 tatapanmu, hingga ketika tatapan qt bertemu, ku yakin cukup membuatmu gelisah. Dan aku puas.
Maafkan aku akan tiap perhatian yang ku beri yang membuatmu merasa membutuhkanku, lebih dari segalanya.
Maafkan aku akan tiap kemanjaan yg ku sengaja lakukan padamu, agar membuatmu gemas dan membekasx rasa di relungmu.
Sungguh, ku meminta maaf padamu adam.
Karena kulakukan semua dengan sengajaku..
Dan ku meminta maaf akan tiap godaan yg timbul dari lakuku.
Akan semua gelisah yg ku toreh karena sukamu padaku.
Maafkan aku akan perhatianmu yg telah kurebut, hingga kau lebih memperhatikanku dari pada orang tuamu.
Akan tiap bersitan rindu yg telah ku kuasai di hatimu, bahkan mbuatmu lebih merindukanku dari pada Rabbmu.
Ketahuilah adam, fitrahku kaum hawa adalah daya tarik terkuat untukmu di dunia ini. Aku hawa mampu menjadi senjata iblis untuk membujukmu memakan huldi yg terlarang. Namun di tanganmu yg bijak, aku hawa mampu menjadi pondasi yg kokohkan imanmu bagai khadijah terhadap Muhammad.
Adam, jangan pernah segan menegurku bila aku salah di matamu, krn sungguh, Allah membentuk hatiku dari daging yg paling lembut agar ku mudah tersentuh dgn segala nasihat. Mataku bgt mudah menangis dgn sentuhan sedikit saja. Namun ingatlah adam, aku hawa dari tulang rusukmu yg paling bengkok, maka fitrahku memang untuk bengkok, maka jgn memaksa untuk meluruskanku, krn kau akan menemukanku patah, sekali ku patah tak akan mampu kau sambung lagi. Namun, jangan pula membiarkanku terus dlm bengkok, tapi cobalah meluruskanku dgn hikmah, dgn bijaksana.. Maka kaupun akan menemukanku lurus bahkan mampu mengokohkanmu..
Adam.. Maafkan aku atas semua lakuku..
Dengarlah permohonan maafku..
Maaf atas segala salah yg telah ku lakukan padamu.
Kau bertanya, salahku apa? Ketahuilah, ku mempunya bgt bnyak salah padamu..
Maaf untuk apa katamu?
Maka dengarlah Adam.
Aku meminta maaf akan tiap tatapanmu padaku yg akhirnya menorehkan gunda dihatimu.
Aku meminta maaf atas tiap alunan suaraku, yg kadang ku akui sengaja ku lembutkan demi menggetarkan rasamu.
Aku meminta maaf akan tiap gerakan tubuhku yg kadang ku sengaja bergerak untuk menarik perhatianmu.
Aku meminta maaf akan tiap senyuman manisku yg ku tau akan mengganggu tidurmu.
Aku meminta maaf akan tiap renyah tawaku, yg ku pun tau akan membayangi tiap anganmu.
Aku meminta maaf untuk tiap hentakan kakiku, yg pastinya akan membuatmu menatap suka.
Aku meminta maaf akan tiap celoteh candaku yg membuatmu nyaman berlama-lama berbicara dgnku dari pada teman ikhwanmu..
Dan aku meminta maaf karena kulakukan semua dgn sadarku, dengan sengajaku.
Dan ku meminta maaf karena Akupun menikmati tiap perhatianmu itu..
Adam, maafkan aku atas tiap polesan bedak dan kosmetik yg sengaja ku pakai agar matamu menatapku kagum.
Maafkan aku atas tiap pakaian yg ku kenakan dgn bentuk sedemikian rupa hingga hatimu mulai resah menatapku.
Maafkan aku akan tiap kerlingan mataku yg kadang ku sengaja mencari2 tatapanmu, hingga ketika tatapan qt bertemu, ku yakin cukup membuatmu gelisah. Dan aku puas.
Maafkan aku akan tiap perhatian yang ku beri yang membuatmu merasa membutuhkanku, lebih dari segalanya.
Maafkan aku akan tiap kemanjaan yg ku sengaja lakukan padamu, agar membuatmu gemas dan membekasx rasa di relungmu.
Sungguh, ku meminta maaf padamu adam.
Karena kulakukan semua dengan sengajaku..
Dan ku meminta maaf akan tiap godaan yg timbul dari lakuku.
Akan semua gelisah yg ku toreh karena sukamu padaku.
Maafkan aku akan perhatianmu yg telah kurebut, hingga kau lebih memperhatikanku dari pada orang tuamu.
Akan tiap bersitan rindu yg telah ku kuasai di hatimu, bahkan mbuatmu lebih merindukanku dari pada Rabbmu.
Ketahuilah adam, fitrahku kaum hawa adalah daya tarik terkuat untukmu di dunia ini. Aku hawa mampu menjadi senjata iblis untuk membujukmu memakan huldi yg terlarang. Namun di tanganmu yg bijak, aku hawa mampu menjadi pondasi yg kokohkan imanmu bagai khadijah terhadap Muhammad.
Adam, jangan pernah segan menegurku bila aku salah di matamu, krn sungguh, Allah membentuk hatiku dari daging yg paling lembut agar ku mudah tersentuh dgn segala nasihat. Mataku bgt mudah menangis dgn sentuhan sedikit saja. Namun ingatlah adam, aku hawa dari tulang rusukmu yg paling bengkok, maka fitrahku memang untuk bengkok, maka jgn memaksa untuk meluruskanku, krn kau akan menemukanku patah, sekali ku patah tak akan mampu kau sambung lagi. Namun, jangan pula membiarkanku terus dlm bengkok, tapi cobalah meluruskanku dgn hikmah, dgn bijaksana.. Maka kaupun akan menemukanku lurus bahkan mampu mengokohkanmu..
Adam.. Maafkan aku atas semua lakuku..
Whatever they said...
Apapun Kata Orang, Inilah Jalanku
Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek
padahal rambut mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman
padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.
Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah
padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku ”ketuaan”
padahal umur kepala dua mereka tidak menjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.
Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik,
padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat,
padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel
Mereka bilang aku nggak gaul,
padahal untuk mengenal konspirasi saja
mereka geleng-geleng.
Mereka bilang:
aku sok suci
aku tidak menikmati hidup
aku nggak ngalir
aku fanatik sok lebay
dan sok bau surga.
Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri.
Karena najis tidak pernah mendapatkan tempat dimanapun berada,
meskipun letaknya di atas tahta emas.
Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak
Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.
Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah menyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur)
Ya, aku memang sok lebay. Karena aku adalah manusia yang lemah yang terserang makhluk kecil macam virus saja tubuhku sudah ambruk, manusia yang bodoh yang tidak mengetahui nasib hidupku satu detik setelah ini, manusia yang serba kurang dan punya batas waktu yang ketika waktu itu habis aku tidak bisa mengulurnya ataupun mempercepatnya
Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga...
Kullu maa huwa aatin qoribun
Segala sesuatu yang pasti datang itu dekat...
Manusia dibekali Islam dan Muhammad Sallaullahu'alaihiwasallam sebagai pembawa huda dan haq
Manusia juga dibekali akal oleh Rabb Sang Pencipta
Namun, manusia diberi kebebasan memilih untuk hidupnya
Dan, there is only one choice
Untuk itulah aku memilih jalanku
Memilih jalan hidupku
Hidup yang aku dambakan
Mendamba apa yang telah dijanjikanNya
Janji yang tak akan pernah teringkari
Whatever... what they said
“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Qs. Al-An’am 116).
"Allah tidak akan mengingkari janji-janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Qs. Ar-Rum 6).
Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek
padahal rambut mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman
padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.
Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah
padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku ”ketuaan”
padahal umur kepala dua mereka tidak menjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.
Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik,
padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat,
padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel
Mereka bilang aku nggak gaul,
padahal untuk mengenal konspirasi saja
mereka geleng-geleng.
Mereka bilang:
aku sok suci
aku tidak menikmati hidup
aku nggak ngalir
aku fanatik sok lebay
dan sok bau surga.
Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri.
Karena najis tidak pernah mendapatkan tempat dimanapun berada,
meskipun letaknya di atas tahta emas.
Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak
Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.
Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah menyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur)
Ya, aku memang sok lebay. Karena aku adalah manusia yang lemah yang terserang makhluk kecil macam virus saja tubuhku sudah ambruk, manusia yang bodoh yang tidak mengetahui nasib hidupku satu detik setelah ini, manusia yang serba kurang dan punya batas waktu yang ketika waktu itu habis aku tidak bisa mengulurnya ataupun mempercepatnya
Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga...
Kullu maa huwa aatin qoribun
Segala sesuatu yang pasti datang itu dekat...
Manusia dibekali Islam dan Muhammad Sallaullahu'alaihiwasallam sebagai pembawa huda dan haq
Manusia juga dibekali akal oleh Rabb Sang Pencipta
Namun, manusia diberi kebebasan memilih untuk hidupnya
Dan, there is only one choice
Untuk itulah aku memilih jalanku
Memilih jalan hidupku
Hidup yang aku dambakan
Mendamba apa yang telah dijanjikanNya
Janji yang tak akan pernah teringkari
Whatever... what they said
“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Qs. Al-An’am 116).
HUKUM PACARAN MENURUT ISLAM
(penjelasan mengenai sebab diharamkannya pacaran)
Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin berbeda dalam setiap budaya. Karena itu kami tidak akan menggunakan istilah `pacaran` dalam masalah ini, agar tidak salah konotasi.
I. Tujuan Pacaran
Ada beragam tujuan orang berpacaran. Ada yang sekedar iseng, atau mencari teman bicara, atau lebih jauh untuk tempat mencurahkan isi hati. Dan bahkan ada juga yang memang menjadikan masa pacaran sebagai masa perkenalan dan penjajakan dalam menempuh jenjang pernikahan.
Namun tidak semua bentuk pacaran itu bertujuan kepada jenjang pernikahan. Banyak diantara pemuda dan pemudi yang lebih terdorong oleh rasa ketertarikan semata, sebab dari sisi kedewasaan, usia, kemampuan finansial dan persiapan lainnya dalam membentuk rumah tangga, mereka sangat belum siap.
Secara lebih khusus, ada yang menganggap bahwa masa pacaran itu sebagai masa penjajakan, media perkenalan sisi yang lebih dalam serta mencari kecocokan antar keduanya. Semua itu dilakukan karena nantinya mereka akan membentuk rumah tangga. Dengan tujuan itu, sebagian norma di tengah masyarakat membolehkan pacaran. Paling tidak dengan cara membiarkan pasangan yang sedang pacaran itu melakukan aktifitasnya. Maka istilah apel malam minggu menjadi fenomena yang wajar dan dianggap sebagai bagian dari aktifitas yang normal.
II. Apa Yang Dilakukan Saat Pacaran ?
Lepas dari tujuan, secara umum pada saat berpacaran banyak terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktifitas pacaran pelajar dan mahasiswa sekarang ini cenderung sampai kepada level yang sangat jauh. Bukan sekedar kencan, jalan-jalan dan berduaan, tetapi data menunjukkan bahwa ciuman, rabaan anggota tubuh dan bersetubuh secara langsung sudah merupakan hal yang biasa terjadi.
Sehingga kita juga sering mendengar istilah “chek-in”, yang awalnya adalah istilah dalam dunia perhotelan untuk menginap. Namun tidak sedikit hotel yang pada hari ini berali berfungsi sebagai tempat untuk berzina pasangan pelajar dan mahasiswa, juga pasanga-pasangan tidak syah lainnya. Bahkan hal ini sudah menjadi bagian dari lahan pemasukan tersendiri buat beberapa hotel dengan memberi kesempatan chek-in secara short time, yaitu kamar yang disewakan secara jam-jaman untuk ruangan berzina bagi para pasangan di luar nikah.
Pihak pengelola hotel sama sekali tidak mempedulikan apakah pasangan yang melakukan chek-in itu suami istri atau bulan, sebab hal itu dianggap sebagai hak asasi setiap orang.
Selain di hotel, aktifitas percumbuan dan hubungan seksual di luar nikah juga sering dilakukan di dalam rumah sendiri, yaitu memanfaatkan kesibukan kedua orang tua. Maka para pelajar dan mahasiswa bisa lebih bebas melakukan hubungan seksual di luar nikah di dalam rumah mereka sendiri tanpa kecurigaan, pengawasan dan perhatian dari anggota keluarga lainnya.
Data menunjukkan bahwa seks di luar nikah itu sudah dilakukan bukan hanya oleh pasangan mahasiswa dan orang dewasa, namun anak-anak pelajar menengah atas (SLTA) dan menengah pertama (SLTP) juga terbiasa melakukannya. Pola budaya yang permisif (serba boleh) telah menjadikan hubungan pacaran sebagai legalisasi kesempatan berzina. Dan terbukti dengan maraknya kasus `hamil di luar nikah` dan aborsi ilegal.
Fakta dan data lebih jujur berbicara kepada kita ketimbang apologi. Maka jelaslah bahwa praktek pacaran pelajar dan mahasiswa sangat rentan dengan perilaku zina yang oleh sistem hukum di negeri ini sama sekali tidak dilarang. Sebab buat sistem hukum sekuluer warisan penjajah, zina adalah hak asasi yang harus dilindungi. Sepasang pelajar atau mahasiswa yang berzina, tidak bisa dituntut secara hukum. Bahkan bila seks bebas itu menghasilkan hukuman dari Allah berupa AIDS, para pelakunya justru akan diberi simpati.
III. Pacaran Dalam Pandangan Islam
a. Islam Mengakui Rasa Cinta
Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
`Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .`(QS. Ali Imran :14).
Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mewujudkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semua itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.
Rasulullah SAW bersabda,`Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku`.
b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal
Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.
Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.
Bahkan lebih `keren`nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan `pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.
Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `laki-laki sejati`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wanita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi “the real man”.
Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.
Sedangkan pemandangan yang kita lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.
Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.
c. Pacaran Bukan Cinta
Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung.
Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada kepastian tentang kesetiaan dan seterusnya.
Padahal cinta itu adalah memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.
d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, atau perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya atas data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.
Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,`Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa` fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha` Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.
Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebagai ta`aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.
Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemu dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum dan acak-acakan. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.
Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya bisa dikatakan sebuah penyesatan dan pengelabuhan.
Dan tidak heran bila kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.
www.eramuslim.com
http://www.facebook.com/pages/Mencintai-Mu-Karena-Allah/228609320497073
Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin berbeda dalam setiap budaya. Karena itu kami tidak akan menggunakan istilah `pacaran` dalam masalah ini, agar tidak salah konotasi.
I. Tujuan Pacaran
Ada beragam tujuan orang berpacaran. Ada yang sekedar iseng, atau mencari teman bicara, atau lebih jauh untuk tempat mencurahkan isi hati. Dan bahkan ada juga yang memang menjadikan masa pacaran sebagai masa perkenalan dan penjajakan dalam menempuh jenjang pernikahan.
Namun tidak semua bentuk pacaran itu bertujuan kepada jenjang pernikahan. Banyak diantara pemuda dan pemudi yang lebih terdorong oleh rasa ketertarikan semata, sebab dari sisi kedewasaan, usia, kemampuan finansial dan persiapan lainnya dalam membentuk rumah tangga, mereka sangat belum siap.
Secara lebih khusus, ada yang menganggap bahwa masa pacaran itu sebagai masa penjajakan, media perkenalan sisi yang lebih dalam serta mencari kecocokan antar keduanya. Semua itu dilakukan karena nantinya mereka akan membentuk rumah tangga. Dengan tujuan itu, sebagian norma di tengah masyarakat membolehkan pacaran. Paling tidak dengan cara membiarkan pasangan yang sedang pacaran itu melakukan aktifitasnya. Maka istilah apel malam minggu menjadi fenomena yang wajar dan dianggap sebagai bagian dari aktifitas yang normal.
II. Apa Yang Dilakukan Saat Pacaran ?
Lepas dari tujuan, secara umum pada saat berpacaran banyak terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktifitas pacaran pelajar dan mahasiswa sekarang ini cenderung sampai kepada level yang sangat jauh. Bukan sekedar kencan, jalan-jalan dan berduaan, tetapi data menunjukkan bahwa ciuman, rabaan anggota tubuh dan bersetubuh secara langsung sudah merupakan hal yang biasa terjadi.
Sehingga kita juga sering mendengar istilah “chek-in”, yang awalnya adalah istilah dalam dunia perhotelan untuk menginap. Namun tidak sedikit hotel yang pada hari ini berali berfungsi sebagai tempat untuk berzina pasangan pelajar dan mahasiswa, juga pasanga-pasangan tidak syah lainnya. Bahkan hal ini sudah menjadi bagian dari lahan pemasukan tersendiri buat beberapa hotel dengan memberi kesempatan chek-in secara short time, yaitu kamar yang disewakan secara jam-jaman untuk ruangan berzina bagi para pasangan di luar nikah.
Pihak pengelola hotel sama sekali tidak mempedulikan apakah pasangan yang melakukan chek-in itu suami istri atau bulan, sebab hal itu dianggap sebagai hak asasi setiap orang.
Selain di hotel, aktifitas percumbuan dan hubungan seksual di luar nikah juga sering dilakukan di dalam rumah sendiri, yaitu memanfaatkan kesibukan kedua orang tua. Maka para pelajar dan mahasiswa bisa lebih bebas melakukan hubungan seksual di luar nikah di dalam rumah mereka sendiri tanpa kecurigaan, pengawasan dan perhatian dari anggota keluarga lainnya.
Data menunjukkan bahwa seks di luar nikah itu sudah dilakukan bukan hanya oleh pasangan mahasiswa dan orang dewasa, namun anak-anak pelajar menengah atas (SLTA) dan menengah pertama (SLTP) juga terbiasa melakukannya. Pola budaya yang permisif (serba boleh) telah menjadikan hubungan pacaran sebagai legalisasi kesempatan berzina. Dan terbukti dengan maraknya kasus `hamil di luar nikah` dan aborsi ilegal.
Fakta dan data lebih jujur berbicara kepada kita ketimbang apologi. Maka jelaslah bahwa praktek pacaran pelajar dan mahasiswa sangat rentan dengan perilaku zina yang oleh sistem hukum di negeri ini sama sekali tidak dilarang. Sebab buat sistem hukum sekuluer warisan penjajah, zina adalah hak asasi yang harus dilindungi. Sepasang pelajar atau mahasiswa yang berzina, tidak bisa dituntut secara hukum. Bahkan bila seks bebas itu menghasilkan hukuman dari Allah berupa AIDS, para pelakunya justru akan diberi simpati.
III. Pacaran Dalam Pandangan Islam
a. Islam Mengakui Rasa Cinta
Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
`Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .`(QS. Ali Imran :14).
Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mewujudkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semua itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.
Rasulullah SAW bersabda,`Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku`.
b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal
Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.
Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.
Bahkan lebih `keren`nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan `pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.
Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `laki-laki sejati`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wanita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi “the real man”.
Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.
Sedangkan pemandangan yang kita lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.
Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.
c. Pacaran Bukan Cinta
Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung.
Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada kepastian tentang kesetiaan dan seterusnya.
Padahal cinta itu adalah memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.
d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, atau perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya atas data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.
Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,`Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa` fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha` Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.
Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebagai ta`aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.
Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemu dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum dan acak-acakan. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.
Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya bisa dikatakan sebuah penyesatan dan pengelabuhan.
Dan tidak heran bila kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.
www.eramuslim.com
http://www.facebook.com/pages/Mencintai-Mu-Karena-Allah/228609320497073
Semiotic elements and classes of signs (Peirce)
Logician, mathematician, philosopher, and scientist Charles Sanders Peirce (1839–1914) began writing on semeiotic, semiotics, or the theory of sign relations in the 1860s, around the time that he devised his system of three categories. He eventually defined semiosis as an "action, or influence, which is, or involves, a cooperation of three subjects, such as a sign, its object, and its interpretant, this tri-relative influence not being in any way resolvable into actions between pairs" (Houser 1998, 411). This specific type of triadic relation is fundamental to Peirce's understanding of "logic as formal semiotic". By "logic" he meant philosophical logic. He eventually divided (philosophical) logic, or formal semiotic, into (1) speculative grammar, or stechiology, on the elements of semiosis (sign, object, interpretant), how signs can signify and, in relation to that, what kinds of signs, objects, and interpretants there are, how signs combine, and how some signs embody or incorporate others; (2) logical critic, or logic proper, on the modes of inference; and (3) speculative rhetoric, or methodeutic, the philosophical theory of inquiry, including his form of pragmatism. His speculative grammar, or stechiology, is this article's subject.
Peirce conceives of and discusses things like representations, interpretations, and assertions broadly and in terms of philosophical logic, rather than in terms of psychology, linguistics, or social studies. He places philosophy at a level of generality between mathematics and the special sciences of nature and mind, such that it draws principles from mathematics and supplies principles to special sciences.[2] On one hand, his semiotic does not resort to special experiences or special experiments in order to settle its questions. On the other hand he draws continually on examples from common experience, and his semiotic is not contained in a mathematical or deductive system and does not proceed chiefly by drawing necessary conclusions about purely hypothetical objects or cases. As philosophical logic, it is about the drawing of conclusions deductive, inductive, or hypothetically explanatory. Peirce's semiotic, in its classifications, its critical analysis of kinds of inference, and its theory of inquiry, is philosophical logic studied in terms of signs and their triadic relations as positive phenomena in general.
In Peirce's theory of signs, a sign is something that stands in a well-defined kind of relation to two other things, its object and its interpretant sign. Although Peirce's definition of a sign is independent of psychological subject matter and his theory of signs covers more ground than linguistics alone, it is nevertheless the case that many of the more familiar examples and illustrations of sign relations will naturally be drawn from linguistics and psychology, along with our ordinary experience of their subject matters.
For example, one way to approach the concept of an interpretant is to think of a psycholinguistic process. In this context, an interpretant can be understood as a sign's effect on the mind, or on anything that acts like a mind, what Peirce calls a quasi-mind. An interpretant is what results from a process of interpretation, one of the types of activity that falls under the heading of semiosis. One usually says that a sign stands for an object to an agent, an interpreter. In the upshot, however, it is the sign's effect on the agent that is paramount. This effect is what Peirce called the interpretant sign, or the interpretant for short. An interpretant in its barest form is a sign's meaning, implication, or ramification, and especial interest attaches to the types of semiosis that proceed from obscure signs to relatively clear interpretants. In logic and mathematics the most clarified and most succinct signs for an object are called canonical forms or normal forms.
Peirce argued that logic is the formal study of signs in the broadest sense, not only signs that are artificial, linguistic, or symbolic, but also signs that are semblances or are indexical such as reactions. Peirce held that "all this universe is perfused with signs, if it is not composed exclusively of signs",[3] along with their representational and inferential relations. He argued that, since all thought takes time, all thought is in signs:
Extension × intension = information. Two traditional approaches to sign relation, necessary though insufficient, are the way of extension (a sign's objects, also called breadth, denotation, or application) and the way of intension (the objects' characteristics, qualities, attributes referenced by the sign, also called depth, comprehension, significance, or connotation). Peirce adds a third, the way of information, including change of information, in order to integrate the other two approaches into a unified whole.[8] For example, because of the equation above, if a term's total amount of information stays the same, then the more that the term 'intends' or signifies about objects, the fewer are the objects to which the term 'extends' or applies. A proposition's comprehension consists in its implications.[9]
Determination. A sign depends on its object in such a way as to represent its object — the object enables and, in a sense, determines the sign. A physically causal sense of this stands out especially when a sign consists in an indicative reaction. The interpretant depends likewise on both the sign and the object — the object determines the sign to determine the interpretant. But this determination is not a succession of dyadic events, like a row of toppling dominoes; sign determination is triadic. For example, an interpretant does not merely represent something which represented an object; instead an interpretant represents something as a sign representing an object. It is an informational kind of determination, a rendering of something more determinately representative.[10] Peirce used the word "determine" not in strictly deterministic sense, but in a sense of "specializes", bestimmt,[10] involving variation in measure, like an influence. Peirce came to define sign, object, and interpretant by their (triadic) mode of determination, not by the idea of representation, since that is part of what is being defined.[11] The object determines the sign to determine another sign — the interpretant — to be related to the object as the sign is related to the object, hence the interpretant, fulfilling its function as sign of the object, determines a further interpretant sign. The process is logically structured to perpetuate itself, and is definitive of sign, object, and interpretant in general.[12] In semiosis, every sign is an interpretant in a chain stretching both fore and aft. The relation of informational or logical determination which constrains object, sign, and interpretant is more general than the special cases of causal or physical determination. In general terms, any information about one of the items in the sign relation tells you something about the others, although the actual amount of this information may be nil in some species of sign relations.
"Representamen" (properly with the "a" long and stressed: pronounced /rɛprɨzɛnˈteɪmən/) was adopted (not coined) by Peirce as his blanket technical term for any and every sign or sign-like thing covered by his theory. It is a question of whether the theoretically defined "representamen" covers only the cases covered by the popular word "sign." The word "representamen" is there in case a divergence should emerge. Peirce's example was this: Sign action always involves a mind. If a sunflower, by doing nothing more than turning toward the sun, were thereby to become fully able to reproduce a sunflower turning in just the same way toward the sun, then the first sunflower's turning would be a representamen of the sun yet not a sign of the sun.[16] Peirce eventually stopped using the word "representamen."[17]
Peirce made various classifications of his semiotic elements, especially of the sign and the interpretant. Of particular concern in understanding the sign-object-interpretant triad is this: In relation to a sign, its object and its interpretant are either immediate (present in the sign) or mediate.
Peirce preferred phrases like dynamic object over real object since the object might be fictive — Hamlet, for instance, to whom one grants a fictive reality, a reality within the universe of discourse of the play Hamlet.[13]
It is initially tempting to regard immediate, dynamic, and final interpretants as forming a temporal succession in an actual process of semiosis, especially since their conceptions refer to beginning, midstages, and end of a semiotic process. But instead their distinctions from each other are modal or categorial. The immediate interpretant is a quality of impression which a sign is fitted to produce, a special potentiality. The dynamic interpretant is an actuality. The final interpretant is a kind of norm or necessity unaffected by actual trends of opinion or interpretation. One does not actually obtain a final interpretant per se; instead one may successfully coincide with it.[20] Peirce, a fallibilist, holds that one has no absolute guarantees that one has done so, but only compelling reasons, sometimes very compelling, to think so and, in practical matters, must sometimes act with complete confidence of having done so. (Peirce said that it is often better in practical matters to rely on instinct, sentiment, and tradition, than on theoretical inquiry.[21]) In any case, insofar as truth is the final interpretant of a pursuit of truth, one believes, in effect, that one coincides with a final interpretant of some question about what is true, whenever and to whatever extent that one believes that one reaches a truth.
Peirce's three basic phenomenological categories come into central play in these classifications. The 1-2-3 numerations used further below in the exposition of sign classes represents Peirce's associations of sign classes with the categories. The categories are as follows:
*Note: An interpretant is an interpretation (human or otherwise) in the sense of the product of an interpretive process.
The three sign typologies depend respectively on (I) the sign itself, (II) how the sign stands for its denoted object, and (III) how the signs stands for its object to its interpretant. Each of the three typologies is a three-way division, a trichotomy, via Peirce's three phenomenological categories.
In later years, Peirce attempted a finer level of analysis, defining sign classes in terms of relations not just to sign, object, and interpretant, but to sign, immediate object, dynamic object, immediate interpretant, dynamic interpretant, and final or normal interpretant. He aimed at 10 trichotomies of signs, with the above three trichotomies interspersed among them, and issuing in 66 classes of signs. He did not bring that system into a finished form. In any case, in that system, icon, index, and symbol were classed by category of how they stood for the dynamic object, while rheme, dicisign, and argument were classed by the category of how they stood to the final or normal interpretant.[30]
These conceptions are specific to Peirce's theory of signs and are not exactly equivalent to general uses of the notions of "icon", "symbol", "index", "tone", "token", "type", "term", "proposition", "argument", and "rhema".
This is the typology of the sign as distinguished by sign's own phenomenological category (set forth in 1903, 1904, etc.).
This is the typology of the sign as distinguished by the phenomenological category which the sign's interpretant attributes to the sign's way of denoting the object (set forth in 1902, 1903, etc.):
Words in parentheses in the table are alternate names for the same kinds of signs.
note at end of section "II. Icon, index, symbol" for details.
Note that a term (in the conventional sense) is not just any rheme; it is a kind of rhematic symbol. Likewise a proposition (in the conventional sense) is not just any dicisign, it is a kind of dicent symbol.
Peirce conceives of and discusses things like representations, interpretations, and assertions broadly and in terms of philosophical logic, rather than in terms of psychology, linguistics, or social studies. He places philosophy at a level of generality between mathematics and the special sciences of nature and mind, such that it draws principles from mathematics and supplies principles to special sciences.[2] On one hand, his semiotic does not resort to special experiences or special experiments in order to settle its questions. On the other hand he draws continually on examples from common experience, and his semiotic is not contained in a mathematical or deductive system and does not proceed chiefly by drawing necessary conclusions about purely hypothetical objects or cases. As philosophical logic, it is about the drawing of conclusions deductive, inductive, or hypothetically explanatory. Peirce's semiotic, in its classifications, its critical analysis of kinds of inference, and its theory of inquiry, is philosophical logic studied in terms of signs and their triadic relations as positive phenomena in general.
Contents |
[edit] Semiotic elements
Here is Peirce's definition of the triadic sign relation that formed the core of his definition of logic.Namely, a sign is something, A, which brings something, B, its interpretant sign determined or created by it, into the same sort of correspondence with something, C, its object, as that in which itself stands to C. (Peirce 1902, NEM 4, 20–21).This definition, together with Peirce's definitions of correspondence and determination, is sufficient to derive all of the statements that are necessarily true for all sign relations. Yet, there is much more to the theory of signs than simply proving universal theorems about generic sign relations. There is also the task of classifying the various species and subspecies of sign relations. As a practical matter, of course, familiarity with the full range of concrete examples is indispensable to theory and application both.
In Peirce's theory of signs, a sign is something that stands in a well-defined kind of relation to two other things, its object and its interpretant sign. Although Peirce's definition of a sign is independent of psychological subject matter and his theory of signs covers more ground than linguistics alone, it is nevertheless the case that many of the more familiar examples and illustrations of sign relations will naturally be drawn from linguistics and psychology, along with our ordinary experience of their subject matters.
For example, one way to approach the concept of an interpretant is to think of a psycholinguistic process. In this context, an interpretant can be understood as a sign's effect on the mind, or on anything that acts like a mind, what Peirce calls a quasi-mind. An interpretant is what results from a process of interpretation, one of the types of activity that falls under the heading of semiosis. One usually says that a sign stands for an object to an agent, an interpreter. In the upshot, however, it is the sign's effect on the agent that is paramount. This effect is what Peirce called the interpretant sign, or the interpretant for short. An interpretant in its barest form is a sign's meaning, implication, or ramification, and especial interest attaches to the types of semiosis that proceed from obscure signs to relatively clear interpretants. In logic and mathematics the most clarified and most succinct signs for an object are called canonical forms or normal forms.
Peirce argued that logic is the formal study of signs in the broadest sense, not only signs that are artificial, linguistic, or symbolic, but also signs that are semblances or are indexical such as reactions. Peirce held that "all this universe is perfused with signs, if it is not composed exclusively of signs",[3] along with their representational and inferential relations. He argued that, since all thought takes time, all thought is in signs:
To say, therefore, that thought cannot happen in an instant, but requires a time, is but another way of saying that every thought must be interpreted in another, or that all thought is in signs. (Peirce, 1868[4])
Thought is not necessarily connected with a brain. It appears in the work of bees, of crystals, and throughout the purely physical world; and one can no more deny that it is really there, than that the colors, the shapes, etc., of objects are really there. Consistently adhere to that unwarrantable denial, and you will be driven to some form of idealistic nominalism akin to Fichte's. Not only is thought in the organic world, but it develops there. But as there cannot be a General without Instances embodying it, so there cannot be thought without Signs. We must here give "Sign" a very wide sense, no doubt, but not too wide a sense to come within our definition. Admitting that connected Signs must have a Quasi-mind, it may further be declared that there can be no isolated sign. Moreover, signs require at least two Quasi-minds; a Quasi-utterer and a Quasi-interpreter; and although these two are at one (i.e., are one mind) in the sign itself, they must nevertheless be distinct. In the Sign they are, so to say, welded. Accordingly, it is not merely a fact of human Psychology, but a necessity of Logic, that every logical evolution of thought should be dialogic. (Peirce, 1906 [5])
[edit] Sign relation
Signhood is a way of being in relation, not a way of being in itself. Anything is a sign — not as itself, but in some relation or other. The role of sign is constituted as one role among three: object, sign, and interpretant sign. It is an irreducible triadic relation; the roles are distinct even when the things that fill them are not. The roles are but three: a sign of an object leads to interpretants, which, as signs, lead to further interpretants. In various relations, the same thing may be sign or semiotic object. The question of what a sign is depends on the concept of a sign relation, which depends on the concept of a triadic relation. This, in turn, depends on the concept of a relation itself. Peirce depended on mathematical ideas about the reducibility of relations — dyadic, triadic, tetradic, and so forth. According to Peirce's Reduction Thesis,[6] (a) triads are necessary because genuinely triadic relations cannot be completely analyzed in terms of monadic and dyadic predicates, and (b) triads are sufficient because there are no genuinely tetradic or larger polyadic relations—all higher-arity n-adic relations can be analyzed in terms of triadic and lower-arity relations and are reducible to them. Peirce and others, notably Robert Burch (1991) and Joachim Hereth Correia and Reinhard Pöschel (2006), have offered proofs of the Reduction Thesis.[7] According to Peirce, a genuinely monadic predicate characteristically expresses quality. A genuinely dyadic predicate — reaction or resistance. A genuinely triadic predicate — representation or mediation. Thus Peirce's theory of relations underpins his philosophical theory of three basic categories (see below).Extension × intension = information. Two traditional approaches to sign relation, necessary though insufficient, are the way of extension (a sign's objects, also called breadth, denotation, or application) and the way of intension (the objects' characteristics, qualities, attributes referenced by the sign, also called depth, comprehension, significance, or connotation). Peirce adds a third, the way of information, including change of information, in order to integrate the other two approaches into a unified whole.[8] For example, because of the equation above, if a term's total amount of information stays the same, then the more that the term 'intends' or signifies about objects, the fewer are the objects to which the term 'extends' or applies. A proposition's comprehension consists in its implications.[9]
Determination. A sign depends on its object in such a way as to represent its object — the object enables and, in a sense, determines the sign. A physically causal sense of this stands out especially when a sign consists in an indicative reaction. The interpretant depends likewise on both the sign and the object — the object determines the sign to determine the interpretant. But this determination is not a succession of dyadic events, like a row of toppling dominoes; sign determination is triadic. For example, an interpretant does not merely represent something which represented an object; instead an interpretant represents something as a sign representing an object. It is an informational kind of determination, a rendering of something more determinately representative.[10] Peirce used the word "determine" not in strictly deterministic sense, but in a sense of "specializes", bestimmt,[10] involving variation in measure, like an influence. Peirce came to define sign, object, and interpretant by their (triadic) mode of determination, not by the idea of representation, since that is part of what is being defined.[11] The object determines the sign to determine another sign — the interpretant — to be related to the object as the sign is related to the object, hence the interpretant, fulfilling its function as sign of the object, determines a further interpretant sign. The process is logically structured to perpetuate itself, and is definitive of sign, object, and interpretant in general.[12] In semiosis, every sign is an interpretant in a chain stretching both fore and aft. The relation of informational or logical determination which constrains object, sign, and interpretant is more general than the special cases of causal or physical determination. In general terms, any information about one of the items in the sign relation tells you something about the others, although the actual amount of this information may be nil in some species of sign relations.
[edit] Sign, object, interpretant
Peirce held that there are exactly three basic semiotic elements, the sign, object, and interpretant, as outlined above and fleshed out here in a bit more detail:- A sign (or representamen) represents, in the broadest possible sense of "represents". It is something interpretable as saying something about something. It is not necessarily symbolic, linguistic, or artificial.
- An object (or semiotic object) is a subject matter of a sign and an interpretant. It can be anything discussable or thinkable, a thing, event, relationship, quality, law, argument, etc., and can even be fictional, for instance Hamlet.[13] All of those are special or partial objects. The object most accurately is the universe of discourse to which the partial or special object belongs.[14] For instance, a perturbation of Pluto's orbit is a sign about Pluto but ultimately not only about Pluto.
- An interpretant (or interpretant sign) is the sign's more or less clarified meaning or ramification, a kind of form or idea of the difference which the sign's being true or undeceptive would make. (Peirce's sign theory concerns meaning in the broadest sense, including logical implication, not just the meanings of words as properly clarified by a dictionary.) The interpretant is a sign (a) of the object and (b) of the interpretant's "predecessor" (the interpreted sign) as being a sign of the same object. The interpretant is an interpretation in the sense of a product of an interpretive process or a content in which an interpretive relation culminates, though this product or content may itself be an act, a state of agitation, a conduct, etc. Such is what is summed up in saying that the sign stands for the object to the interpretant.
"Representamen" (properly with the "a" long and stressed: pronounced /rɛprɨzɛnˈteɪmən/) was adopted (not coined) by Peirce as his blanket technical term for any and every sign or sign-like thing covered by his theory. It is a question of whether the theoretically defined "representamen" covers only the cases covered by the popular word "sign." The word "representamen" is there in case a divergence should emerge. Peirce's example was this: Sign action always involves a mind. If a sunflower, by doing nothing more than turning toward the sun, were thereby to become fully able to reproduce a sunflower turning in just the same way toward the sun, then the first sunflower's turning would be a representamen of the sun yet not a sign of the sun.[16] Peirce eventually stopped using the word "representamen."[17]
Peirce made various classifications of his semiotic elements, especially of the sign and the interpretant. Of particular concern in understanding the sign-object-interpretant triad is this: In relation to a sign, its object and its interpretant are either immediate (present in the sign) or mediate.
- Sign, always immediate to itself — that is, in a tautologous sense, present in or at itself, even if it is not immediate to a mind or immediately accomplished without processing or is a general apprehended only in its instances.
- Object
- Immediate object, the object as represented in the sign.
- Dynamic object, the object as it really is, on which the idea which is the immediate object is "founded, as on bedrock"[18] Also called the dynamoid object, the dynamical object.
- Interpretant
- Immediate interpretant, the quality of the impression which a sign is fit to produce, not any actual reaction, and which the sign carries with it even before there is an interpreter or quasi-interpreter. It is what is ordinarily called the sign's meaning.
- Dynamic interpretant, the actual effect (apart from the feeling) of the sign on a mind or quasi-mind, for instance the agitation of the feeling.
- Final interpretant, the effect which the sign would have on the conduct of any mind or quasi-mind if circumstances allowed that effect to be fully achieved. It is the sign's end or purpose. The final interpretant of one's inquiry about the weather is the inquiry's purpose, the effect which the response would have on the plans for the day of anybody in one's shoes. The final interpretant of a line of investigation as such is the truth as the ideal final opinion and would be reached sooner or later but still inevitably by investigation adequately prolonged, though the truth remains independent of that which you or I or any finite community of investigators believe.
Peirce preferred phrases like dynamic object over real object since the object might be fictive — Hamlet, for instance, to whom one grants a fictive reality, a reality within the universe of discourse of the play Hamlet.[13]
It is initially tempting to regard immediate, dynamic, and final interpretants as forming a temporal succession in an actual process of semiosis, especially since their conceptions refer to beginning, midstages, and end of a semiotic process. But instead their distinctions from each other are modal or categorial. The immediate interpretant is a quality of impression which a sign is fitted to produce, a special potentiality. The dynamic interpretant is an actuality. The final interpretant is a kind of norm or necessity unaffected by actual trends of opinion or interpretation. One does not actually obtain a final interpretant per se; instead one may successfully coincide with it.[20] Peirce, a fallibilist, holds that one has no absolute guarantees that one has done so, but only compelling reasons, sometimes very compelling, to think so and, in practical matters, must sometimes act with complete confidence of having done so. (Peirce said that it is often better in practical matters to rely on instinct, sentiment, and tradition, than on theoretical inquiry.[21]) In any case, insofar as truth is the final interpretant of a pursuit of truth, one believes, in effect, that one coincides with a final interpretant of some question about what is true, whenever and to whatever extent that one believes that one reaches a truth.
[edit] Classes of signs
Peirce proposes several typologies and definitions of the signs. More than 76 definitions of what a sign is have been collected throughout Peirce's work.[22] Some canonical typologies can nonetheless be observed, one crucial one being the distinction between "icons", "indices" and "symbols" (CP 2.228, CP 2.229 and CP 5.473). The icon-index-symbol typology is chronologically the first but structurally the second of three that fit together as a trio of three-valued parameters in regular scheme of nine kinds of sign. (The three "parameters" (not Peirce's term) are not independent of one another, and the result is a system of ten classes of sign, which are shown further down in this article.)Peirce's three basic phenomenological categories come into central play in these classifications. The 1-2-3 numerations used further below in the exposition of sign classes represents Peirce's associations of sign classes with the categories. The categories are as follows:
| Name: | Typical characterizaton: | As universe of experience: | As quantity: | Technical definition: | Valence, "adicity": |
|---|---|---|---|---|---|
| Firstness.[24] | Quality of feeling. | Ideas, chance, possibility. | Vagueness, "some". | Reference to a ground (a ground is a pure abstraction of a quality).[25] | Essentially monadic (the quale, in the sense of the such,[26] which has the quality). |
| Secondness.[27] | Reaction, resistance, (dyadic) relation. | Brute facts, actuality. | Singularity, discreteness, “this”. | Reference to a correlate (by its relate). | Essentially dyadic (the relate and the correlate). |
| Thirdness.[28] | Representation, mediation. | Habits, laws, necessity. | Generality, continuity, "all". | Reference to an interpretant*. | Essentially triadic (sign, object, interpretant*). |
The three sign typologies depend respectively on (I) the sign itself, (II) how the sign stands for its denoted object, and (III) how the signs stands for its object to its interpretant. Each of the three typologies is a three-way division, a trichotomy, via Peirce's three phenomenological categories.
- Qualisigns, sinsigns, and legisigns . Every sign is either (qualisign) a quality or possibility, or (sinsign) an actual individual thing, fact, event, state, etc., or (legisign) a norm, habit, rule, law. (Also called types, tokens, and tones, also potisigns, actisigns, and famisigns.)
- Icons, indices, and symbols. Every sign refers either (icon) through similarity to its object, or (index) through factual connection to its object, or (symbol) through interpretive habit or norm of reference to its object.
- Rhemes, dicisigns, and arguments . Every sign is interpreted either as (rheme) term-like, standing for its object in respect of quality, or as (dicisign) proposition-like, standing for its object in respect of fact, or as (argument) argumentative, standing for its object in respect of habit or law. This is the trichotomy of all signs as building blocks of inference. (Also called sumisigns, dicisigns, and suadisigns, also semes, phemes, and delomes.)
In later years, Peirce attempted a finer level of analysis, defining sign classes in terms of relations not just to sign, object, and interpretant, but to sign, immediate object, dynamic object, immediate interpretant, dynamic interpretant, and final or normal interpretant. He aimed at 10 trichotomies of signs, with the above three trichotomies interspersed among them, and issuing in 66 classes of signs. He did not bring that system into a finished form. In any case, in that system, icon, index, and symbol were classed by category of how they stood for the dynamic object, while rheme, dicisign, and argument were classed by the category of how they stood to the final or normal interpretant.[30]
These conceptions are specific to Peirce's theory of signs and are not exactly equivalent to general uses of the notions of "icon", "symbol", "index", "tone", "token", "type", "term", "proposition", "argument", and "rhema".
[edit] I. Qualisign, sinsign, legisign
Also called tone, token, type; and also called potisign, actisign, famisign.This is the typology of the sign as distinguished by sign's own phenomenological category (set forth in 1903, 1904, etc.).
- A qualisign (also called tone, potisign, and mark) is a sign which consists in a quality of feeling, a possibility, a "First."
- A sinsign (also called token and actisign) is a sign which consists in a reaction/resistance, an actual singular thing, an actual occurrence or fact, a "Second."
- A legisign (also called type and famisign) is a sign which consists in a (general) idea, a norm or law or habit, a representational relation, a "Third."
[edit] II. Icon, index, symbol
This is the typology of the sign as distinguished by phenomenological category of its way of denoting the object (set forth in 1867 and many times in later years). This typology emphasizes the different ways in which the sign refers to its object — the icon by a quality of its own, the index by real connection to its object, and the symbol by a habit or rule for its interpretant. The modes may be compounded, for instance, in a sign that displays a forking line iconically for a fork in the road and stands indicatively near a fork in the road.- An icon (also called likeness and semblance) is a sign that denotes its object by virtue of a quality which is shared by them but which the icon has irrespectively of the object. The icon (for instance, a portrait or a diagram) resembles or imitates its object. The icon has, of itself, a certain character or aspect, one which the object also has (or is supposed to have) and which lets the icon be interpreted as a sign even if the object does not exist. The icon signifies essentially on the basis of its "ground." (Peirce defined the ground as the pure abstraction of a quality, and the sign's ground as the pure abstraction of the quality in respect of which the sign refers to its object, whether by resemblance or, as a symbol, by imputing the quality to the object.[32]). Peirce called an icon apart from a label, legend, or other index attached to it, a "hypoicon", and divided the hypoicon into three classes: (a) the image, which depends on a simple quality; (b) the diagram, whose internal relations, mainly dyadic or so taken, represent by analogy the relations in something; and (c) the metaphor, which represents the representative character of a sign by representing a parallelism in something else.[33] A diagram can be geometric, or can consist in an array of algebraic expressions, or even in the common form "All __ is ___" which is subjectable, like any diagram, to logical or mathematical transformations. Peirce held that mathematics is done by diagrammatic thinking — observation of, and experimentation on, diagrams.
- An index* is a sign that denotes its object by virtue of an actual connection involving them, one that he also calls a real relation in virtue of its being irrespective of interpretation. It is in any case a relation which is in fact, in contrast to the icon, which has only a ground for denotation of its object, and in contrast to the symbol, which denotes by an interpretive habit or law. An index which compels attention without conveying any information about its object is a pure index, though that may be an ideal limit never actually reached. If an indexical relation is a resistance or reaction physically or causally connecting an index to its object, then the index is a reagent (for example smoke coming from a building is a reagent index of fire). Such an index is really affected or modified by the object, and is the only kind of index which can be used in order to ascertain facts about its object. Peirce also usually held that an index does not have to be an actual individual fact or thing, but can be a general; a disease symptom is general, its occurrence singular; and he usually considered a designation to be an index, e.g., a pronoun, a proper name, a label on a diagram, etc. (In 1903 Peirce said that only an individual is an index,[34] gave "seme" as an alternate expression for "index", and called designations "subindices or hyposemes,[35] which were a kind of symbol; he allowed of a "degenerate index" indicating a non-individual object, as exemplified by an individual thing indicating its own characteristics. But by 1904 he returned to allowing indices to be generals and to classing designations as indices. In 1906 he changed the meaning of "seme" to that of the earlier "sumisign" and "rheme".)
- A symbol* is a sign that denotes its object solely by virtue of the fact that it will be interpreted to do so. The symbol consists in a natural or conventional or logical rule, norm, or habit, a habit that lacks (or has shed) dependence on the symbolic sign's having a resemblance or real connection to the denoted object. Thus, a symbol denotes by virtue of its interpretant. Its sign-action (semeiosis) is ruled by a habit, a more or less systematic set of associations that ensures its interpretation. For Peirce, every symbol is a general, and that which we call an actual individual symbol (e.g., on the page) is called by Peirce a replica or instance of the symbol. Symbols, like all other legisigns (also called "types"), need actual, individual replicas for expression. The proposition is an example of a symbol which is irrespective of language and of any form of expression and does not prescribe qualities of its replicas.[36] A word that is symbolic (rather than indexical like "this" or iconic like "whoosh!") is an example of a symbol that prescribes qualities (especially looks or sound) of its replicas.[37] Not every replica is actual and individual. Two word-symbols with the same meaning (such as English "horse" and Spanish caballo) are symbols which are replicas of that symbol which consists in their shared meaning.[31] A book, a theory, a person, each is a complex symbol.
[edit] III. Rheme, dicisign, argument
Also called sumisign, dicisign, suadisign; also called seme, pheme, delome; and seen as very broadened versions of the traditional term, proposition, argumentThis is the typology of the sign as distinguished by the phenomenological category which the sign's interpretant attributes to the sign's way of denoting the object (set forth in 1902, 1903, etc.):
- A rheme (also called sumisign and seme*) is a sign that represents its object in respect of quality and so, in its signified interpretant, is represented as a character or mark,[39] though it actually may be icon, index, or symbol. The rheme* (seme) stands as its object for some purpose.[40] A proposition with the subject places left blank is a rheme; but subject terms by themselves are also rhemes. A proposition, said Peirce, can be considered a zero-place rheme, a zero-place predicate.
- A dicisign (also called dicent sign and pheme ) is a sign that represents its object in respect of actual existence and so, in its signified interpretant, is represented as indexical,[41] though it actually may be either index or symbol. The dicisign separately indicates its object (as subject of the predicate).[42] The dicisign "is intended to have some compulsive effect on the interpreter of it".[40] Peirce had generalized the idea of proposition to where a weathercock, photograph, etc., could be considered propositions (or "dicisigns", as he came to call them). A proposition in the conventional sense is a dicent symbol (also called symbolic dicisign). Assertions are also dicisigns.
- An argument (also called suadisign and delome) is a sign that represents its object in respect of law or habit and so, in its signified interpretant, is represented as symbolic (and was indeed a symbol in the first place).[43] The argument separately "monstrates" its signified interpretant (the argument's conclusion); an argument stripped of all signs of such monstrative relationship is, or becomes, a dicisign.[42] It represents "a process of change in thoughts or signs, as if to induce this change in the Interpreter" through the interpreter's own self-control.[40] A novel, a work of art, the universe, can be a delome in Peirce's terms.
[edit] The three sign typologies together: ten classes of sign
The three typologies, labeled "I.", "II.", and "III.", are shown together in the table below. As parameters, they are not independent of one another. As previously said, many co-classifications aren't found.[29] The slanting and vertical lines show the options for co-classification of a given sign (and appear in MS 339, August 7, 1904, viewable here at the Lyris peirce-l archive[44]). The result is ten classes of sign.Words in parentheses in the table are alternate names for the same kinds of signs.
note at end of section "II. Icon, index, symbol" for details.
Note that a term (in the conventional sense) is not just any rheme; it is a kind of rhematic symbol. Likewise a proposition (in the conventional sense) is not just any dicisign, it is a kind of dicent symbol.
| Sign's own phenome- nological category | Relation to object | Relation to interpretant | Specificational redundancies in parentheses | Some examples | |
| (I) | Qualisign | Icon | Rheme | (Rhematic Iconic) Qualisign | A feeling of "red" |
| (II) | Sinsign | Icon | Rheme | (Rhematic) Iconic Sinsign | An individual diagram |
| (III) | Index | Rheme | Rhematic Indexical Sinsign | A spontaneous cry | |
| (IV) | Dicisign | Dicent (Indexical) Sinsign | A weathercock or photograph | ||
| (V) | Legisign | Icon | Rheme | (Rhematic) Iconic Legisign | A diagram, apart from its factual individuality |
| (VI) | Index | Rheme | Rhematic Indexical Legisign | A demonstrative pronoun | |
| (VII) | Dicisign | Dicent Indexical Legisign | A street cry (identifying the individual by tone, theme) | ||
| (VIII) | Symbol | Rheme | Rhematic Symbol (–ic Legisign) | A common noun | |
| (IX) | Dicisign | Dicent Symbol (–ic Legisign) | A proposition (in the conventional sense) | ||
| (X) | Argument | Argument (–ative Symbolic Legisign) | A syllogism |
| (I) Rhematic Iconic Qualisign | (V) Rhematic Iconic Legisign | (VIII) Rhematic Symbol Legisign | (X) Argument Symbolic Legisign | ||||
| (II) Rhematic Iconic Sinsign | (VI) Rhematic Indexical Legisign | (IX) Dicent Symbol Legisign | |||||
| (III) Rhematic Indexical Sinsign | (VII) Dicent Indexical Legisign | ||||||
| (IV) Dicent Indexical Sinsign | |||||||
Langganan:
Komentar (Atom)

